Guru BAM Keluhkan Kurikulum

By Zul Amri, SE 16 Nov 2017, 16:54:57 WIB

Sejumlah guru mata pelajaran muatan lokal, Budaya Alam Minangkabau (BAM) mendatangi DPRD Sumbar, Rabu (15/11). Mereka mengeluhkan mata pelajaran tersebut tidak memiliki kedudukan yang jelas pada kurikulum 2013 (K-2013).

Kehadiran mereka, diterima oleh anggota Komisi V DPRD Sumbar. Dalam pertemuan tersebut, mereka menyebutkan,  mata pelajaran BAM sebagai muatan lokal tidak memiliki kedudukan sebagai muatan lokal khusus yang berdiri sendiri. Ilmu kebudayaan dimasukkan dalam kelompok seni dan budaya.

Salah seorang guru muatan lokal BAM Roni mengatakan, pasca diterapkannya kurikulum 2013 dalam dunia pendidikan tersebut, pelajaran muatan lokal Budaya Alam Minangkabau (BAM) juga terpinggirkan.

Ini juga berpengaruh terhadap status para guru, mulai dari jatah jam pelajaran yang berkurang sampai sulitnya para guru untuk memenuhi syarat sertifikasi. Mereka berpandangan kalau mau diintegrasikan pada mata pelajaran lain, BAM lebih tepat masuk dalam mata pelajaran bahasa bukan dengan kesenian karena guru BAM umumnya berlatar belakang sastra daerah.

"Jika dimasukkan ke kelompok pelajaran seni, seperti seni tari dan musik bukan kapasitas kami. Karenanya, kami berharap ke depan pelajaran Budaya Alam Minangkabau dapat diajarkan lagi secara tersendiri pada semua jenjang pendidikan," ka